Monday, 28 September 2020

Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental



Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas ospek Raja Brawijaya Online 2020. Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan.


Mental Health, adalah kondisi kesehatan mental seseorang dalam hidupnya, baik di masa depan atau di masa yang sedang dijalani. Banyak orang menganggap remeh mengenai kesehatan mental seseorang, padahal kesehatan mental adalah termasuk dalam aspek yang penting jika orang tersebut dianggap sehat. Karena kita kebanyakan melihat seseorang itu sehat hanya dari penampilan fisik atau secara jasmani.


Namun kita juga harus melihat dari aspek kerohaniannya, sulit memang jika kita menganalisis kesehatan mental seseorang. Kita harus melakukan pendekatan-pendekatan tertentu agar seseorang mau bercerita mengenai permasalahan yang dihadapinya. Banyak orang atau bahkan pemuda yang putus asa mengenai masalah yang dihadapinya. Ada juga yang memilih untuk mengakhiri hidupnya karena tidak sanggup menghadapi permasalahannya.

 

Kesehatan mental yang bagus adalah ketika seseorang berada di kondisi yang tenang dan bahagia, yang menjadikan seseorang itu menjadi enjoy dan dapat menikmati kehidupannya. Jika kesehatan mental seseorang tidak stabil atau terganggu, maka hal ini dapat menghambat hal yang sedang dilakukannya, sesederhana apapun hal itu. Ada berbagai contoh gangguan kesehatan mental seperti stress, depresi, gangguan kecemasan, bipolar, ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder), dan masih banyak lagi.

 

 

Dalam kebanyakan kasus, sebagian besar masyarakat menganggap bahwa orang yang mempunyai gangguan mental atau mental illness adalah orang yang jauh dari agama atau orang yang mempunyai tingkat keimanan yang rendah. Ada juga kawan saya yang mempunyai uneg-uneg yang ingin disampaikan kepada temannya, namun malah dijawab “itu mah masih mending, lah aku malah...blablabla.” sehingga terjadilah adu nasib. Mungkin itu adalah salah satu penyebab mengapa orang yang ingin bercerita tentang masalah yang mengganjal dihidupnya memilih untuk memendamnya saja daripada hanya dijadikan sebuah dongeng sebelum tidur.

 

 

Menurut saya masyarakat perlu lebih aware dan tidak menganggap hal ini adalah sebuah masalah yang sepele. Ada banyak faktor yang mempengaruhi kesehatan mental seseorang yaitu, faktor internal dan faktor eksternal. Tercatat beberapa masalah kesehatan mental terjadi selain karena akibat masalah eksternal, juga terjadi karena ada kelainan pada otak seseorang. Faktor eksternal juga paling berpengaruh terhadap kesehatan mental seseorang. Seperti lingkungan keluarga yang tidak harmonis atau bahkan “broken home”, lingkungan pertemanan yang tidak sehat dan dia tidak bisa menemukan kebahagiaan didalam keluarga maupun lingkungan pertemanannya.

 

 

Cukup sering dijumpai gejala gangguan mental bisa muncul tanpa disadari oleh penderita maupun orang yang ada disekitarnya. Jika penderita tidak mendapatkam penanganan yang baik bisa saja kondisi ini mempengaruhi kondisi psikologis seseorang. Kita harus peka terhadap gejala gangguan mental ini karena gejala gangguan mental tidak dapat dilihat secara kasat mata saja. Jika pembaca mungkin diajak curhat oleh teman anda maka jangan mengeluarkan kata-kata yang mungkin bisa saja menyakiti hatinya, sebisa mungkin anda harus memilih kata-kata yang menenangkan dia. Atau jika tidak lebih diam saja sambil mendengarkan.

 

 

Dengan menyadari bahwa menjaga kesehatan mental diri sendiri dan orang lain itu penting, maka disinilah kita belajar pentingnya menghargai orang lain dari segi apapun itu baik kelebihan dan kekurangannya. Kita juga bisa membantunya dengan hal-hal sederhana. Dan di masa pandemi Covid-19 ini tentunya akan semakin meningkatkan kemungkinan akan seseorang terkene gangguan mental, baik depresi, stress karena banyak waktu yang mereka habiskan di rumah. Tentunya penulis berharap pembaca tetap menjaga kondisinya baik secara jasmani dan kesehatan rohaninya

 

Terima Kasih

Fandy Ramadhan Saputro

205110500111036

Cluster 40


Mengapa Kita Harus Mencintai Diri Sendiri Terlebih Dahulu?






Hai Assalamualaikum, saya Fandy Ramadhan Saputro dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya, disini saya akan menjabarkan sedikit tentang ‘Cinta Pada Diri Sendiri’ saya mohon  maaf kalau misalnya ada kata-kata saya yang kurang berkenan.

 

Cinta Pada Diri Sendiri, ya mungkin terdengar klise bagi kebanyakan orang atau bahkan saya sendiri. Tetapi sebenarnya hal ini sangat penting untuk diterapkan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Banyak orang sekarang sering update di Media Sosial mereka seperti Instagram, Twitter, Facebook, dan lainnya yang mengatakan bahwa mereka sedang Overthinking, insecure dengan keadaannya. Ya hal itu memang sangat subjektif, penulis no offense terhadap hal tersebut. Namun ada banyak hal di dunia ini yang masih bisa membuatmu bahagia dan percaya diri menghadapi hari-harimu, saya misalnya ehe.

 

“Badannya bagus ya, langsing. Badanku jelek.”

“Mukanya glowing banget ya, gak kayak aku.”

“Dia pintar banget ya? Lulus kuliahnya cepat. Nggak kayak aku.”

“Senang ya pasti jadi dia. Pintar, cantik lagi.”

 

Pasti kalian sering menyebut atau mendengarkan kalimat tersebut, banyak orang yang ingin dicintai dan dianggap “wah” oleh orang lain tanpa menghargai dan mencintai dirinya sendiri dahulu. Kawan, lihatlah dirimu, betapa luar biasanya dirimu mampu bertahan dan berdiri sampai sekarang. Membandingkan dirimu dengan orang lain tidak akan ada habisnya, karena semakin kamu melihat kelebihan orang lain kamu akan melupakan kelebihan dari dirimu sendiri.

 

“Jangan Jalani Hidupmu Untuk Membuat Orang Lain Ingin Melihatmu WAH SEKALI DIA YA.”

 

Tidak akan ada yang sempurna di dunia ini, sebaik apapun Anda menilai seseorang atau sesuatu. Orang paling cantik yang pernah Anda temui saja mungkin memiliki kekurangan yang tidak Anda ketahui. Orang yang Anda anggap paling pintar juga mungkin memiliki ketidakmampuan melakukan sesuatu. Setiap orang pasti memiliki kekurangan. Bagaimana Anda mampu menghargai kekurangan yang Anda miliki, akan membuat Anda mampu menghargai kekurangan yang dimiliki orang lain.

 

Lakukanlah sesuatu tanpa memikirkan opini atau omongan orang lain yang selalu tidak enak didengar di telinga anda, minder hanya akan membuat anda sedih dan tidak percaya diri. Atau jika anda butuh tempat cerita, ceritakan saja kepada teman dekat atau saudara anda, mungkin itu akan sedikit mengurangi beban yang ada di hati anda. Percayalah ada orang yang masih mencintai anda apa adanya. 

 

Bahagia bisa dilakukan dengan cara yang berbeda-beda tiap orangnya. Penulis sendiri sebenarnya adalah orang yang minder-an atau selalu kurang percaya diri dengan diri saya sendiri. Karena dulu waktu masih SMP teman-teman saya badannya sudah bisa dibilang ideal bagi seorang remaja SMP. Waktu itu tubuh saya kecil sehingga sering dijadikan candaan walau itu sebenarnya sedikit menyakitkan. Lalu saya berusaha menaikkan berat badan saya, namun itu sulit tercapai meskipun saya sering makan makanan berat di malam hari pun, tetap saja tubuh saya ini mungkin sudah tercetak kecil.

 

Dari situ saya berpikir untuk menerima keadaan dan mulai mencintai diri sendiri, walau rasa insekyur terus menghampiri saya, namun saya mulai terbiasa dengan hal itu. Ya namanya remaja masih sering ejek-ejekan. Jika pembaca masih kesulitan mencintai dirimu sendiri, tak apa semuanya butuh proses, pelan-pelan saja seperti kamu mendekati doi ehe. Jangan sampai kita lupa bahwa manusia tidak ada yang sempurna, serta kawan dan musuh ternyata dalam hidup ini adalah diri kita sendiri.

 

Terima Kasih

Fandy Ramadhan Saputro

205110500111036

Cluster 40